Salim Segaf: Ulama Garda Terdepan Mempertahankan Pancasila dan Melawan Komunisme

Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Salim Segaf Al Jufri menuturkan peran ulama tidak hanya hadir dalam membidani lahirnya Pancasila. Tapi ulama juga ikut berjuang mempertahankan Pancasila melawan penjajah kolonial. “Para ulama kita tidak hanya membidani lahirnya Pancasila. Sejarah telah mencatat bahwa para ulama berada pada garda terdepan saat mempertahankan Pancasila,” kata Salim dalam keterangannya, Sabtu (9/10/2021).

Salim menegaskan, peran ulama dalam melahirkan dan menjaga ideologi Pancasila sudah tidak perlu diragukan. Ia menegaskan sangat tidak tepat jika ada anggapan bahwa umat Islam tidak setuju dengan keberadaan Pancasila di Indonesia. “Tidak perlu diragukan lagi para Ulama kita telah turut serta dalam kelahiran dan menjaga eksistensi Pancasila. Sehingga, sangat tidak tepat jika kemudian umat Islam dianggap tidak sependapat dengan keberadaan Pancasila, atau bahwa dikatakan melawan Pancasila,” jelasnya.

Hadharatus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945. Fatwa resolusi jhad yang dikeluarkan Hasyim Asyari berhasil membangkitkan semangat para pemuda di seluruh Indonesia, sehingga terjadi peritiwa pertempuran 10 November di Surabaya. “Seruan wajibnya membela negara dari ulama tersebut akhirnya membakar semangat para pemuda Indonesia sehingga meledakkan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, perjuangan para santri dalam mempertahankan NKRI dan Pancasila ini akhirnya dicatat sebagai hari Pahlawan,” terang Salim.

Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional itu juga mengatakan, tidak hanya dalam membela ideologi Pancasila, para ulama juga berada di garda terdepan dalam melawan paham komunisme yang sempat tumbuh subur di Indonesia. “Sejarah juga mencatat, bahwa para Ulama berada di garis terdepan saat ada upaya kudeta yang dilakukan oleh PKI. Para ulama tampil terdepan melawan upaya penggantian Pancasila menjadi komunisme saat itu,” kata Salim “Perlawanan terhadap PKI ini dilakukan di berbagai pesantren di Jawa, mulai dari Pesantren Gontor, Pesantren Takeran, sampai dengan Pesantren Tegal Rejo,” tutur Salim.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman KH. Syukron Makmun menambahkan, peran ulama dalam mengusir kolonial dari Nusantara sudah dimulai ratusan tahun sebelum ada gerakan nasional. "Lihat Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol sudah berjuang lebih dulu agar Nusantara tidak dibawah kekuasaan kolonial," ujarnya. Perjuangan umat Islam dan ulama juga istikamah termasuk dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

"Anda silahkan survei di Taman Makam Pahlawan di setiap kabupaten/kota. Silahkan sensus siapa yang paling banyak berbaring di situ. Itu tanda bukti kontibusi ulama dan umat Islam terhadap NKRI," ungkap Kiai Syukran. Sejawaan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara meminta agar penguasa tidak melupakan ulama dalam perannya bagi NKRI. Ia menyebut, di depan Monas ada patung Pangeran Diponegoro yang menghadap istana. Ia menyebut, simbol itu adalah pengingat jika penguasa di istana tidak boleh melupakan ulama dalam perjuangan nasional.

"Dari situ saja kita mengerti ulama sebagai garda terdepan mennjaga Indonesia, disimbolkan menjaga monumen nasional. Istana harus paham ini," jelasnya.

Add a Comment

Your email address will not be published.